Selasa, 05 Oktober 2010
WBA
Apa itu WBA ? Yaitu adalah training aktivasi otak tengah bagi anak-anak usia 5-15 tahun.
Trainingnya hanya diikuti oleh 24 anak yang diadakan di SMP Bhakti Pertiwi, Paiton, Probolinggo.
Awalnya sih aku ragu untuk ikutan, tapi karena kata ayah dan mama training ini bagus untuk aku akhirnya aku ikut juga. Ternyata teman-temanku juga banyak yang ikut lhoo. Aku jadi tambah semangat karena akan ketemu teman-temanku di sana.
Jam 7.30 pagi aku sudah dilokasi dengan membawa sebuah bantal kecil dan alat sholat diantar ayah dan mama. Setelah melakukan registrasi kami semua dapat kaos warna putih berpadu oranye dan terdapat gambar logo dari lembaga training tersebut "WBA...Whole Brain Activation " yang aku kurang paham artinya apa.
Kemudian kami masuk ke dalam sebuah ruangan aula ber AC dan mendapatkan sebuah bingkisan lagi yaitu berupa tas berisi alat-alat yang nantinya akan dipakai untuk latihan. Ada kain hitam sebagai penutup mata, buku mewarnai, crayon, kartu remi, dan beberapa alat tulis lainnya.
Pertama-tama kami diajak bermain, menari dan bertepuk tangan dengan bimbingan instruktur WBA. Setelah itu instruktur lain menjelaskan apa yang dimaksud dengan otak tengah dan manfaat mengikuti training tersebut.
Selesai memberikan penjelasan, instruktur tadi memberi tahukan bahwa pada saat training dimulai orangtua tidak boleh berada dalam ruangan. Orangtua boleh menjenguk pada saat jam istirahat yaitu jam 13.00.
Dan mulailah pelatihan itu pada pukul 09:00
Selasa, 28 September 2010
Minggu Pagi yang Naas
Minggu pagi…sekolah libur, enaknya jalan-jalan dari desa ke desa naik sepeda atau sepeda motor sama keluarga.
Ayah, mama, adik dan aku sudah siap mau berangkat. Karena ada sesuatu, Mama dan Ayah mampir dulu ke rumah kakak Bagas, saudara sepupu kami putranya Papa Tri kakaknya Mama.
Akhirnya kami semua pergi bersama-sama naik motor 3.
Papa Tri sama Mama Lilik, mBak Nanda dan adik Tora naik sepeda motor Bajaj"Pulsar".
Mama sama kakak Bagas naik sepeda motor Revo milikku.
Sedangkan aku dan dik Zahrein yang masih kecil naik Vario dibonceng Ayah.
Kami berangkat beriringan pelan-pelan menyusuri jalanan kampung yang sudah beraspal.
Papa Tri yang naik Bajaj Pulsar berada diurutan paling depan. Adikku Tora naik diatas tangki bensin yang besar dan tinggi itu. Sambil teriak-teriak kegirangan karena senangnya.
Mama berada di tengah – tengah iring-iringan itu. Ditengah perjalanan Mama disalip oleh Ayah dan berada diurutan paling belakang.
Jalanan pagi itu agak ramai karena banyak petani tembakau yang hilir mudik mengangkut hasil panennya.
Akhirnya Papa Tri mengambil jalan berbelok bermaksud mencari jalan yang agak sepi.
Dan kami yang berada dibelakangnya mengekor saja mengikuti motor yang didepan.
Kami terus beriringan sambil melihat-lihat pemandangan alam pedesaan yang khas.
Saat itu kami baru saja melewati batas desa Kedung Rejoso, Paiton.
Mama masih tertinggal dibelakang tapi masih dapat kulihat dari jarak yang tidak terlalu jauh dan tiba-tiba terdengar suara teriakan Mama seperti kaget lalu “BRAKKK…..”
Sepeda motor mama jatuh dan kakak Bagas yang tadi dalam boncengannya terjatuh dalam posisi tengkurap.
Ayah buru-buru memutar balik motornya untuk menghampiri mama dan kakak Bagas.
Begitu juga Papa Tri segera kembali berbalik arah mendatangi Mama dan Kakak Bagas.
Astagfirullah…….bibir mama berdarah, tangan dan kakinya lecet-lecet. Sepeda motornyapun spionnya bengkok nggak karuan…..sedangkan kakak Bagas masih meringis kesakitan karena lututnya luka.
Cepat-cepat ayah memeriksa keadaan mama dan kakak, alhamdulillah masih sadar dan hanya mengalami luka-luka luar saja. Tapi gigi mama ada yang goyang seperti mau copot.
Segera jalanan desa yang semula sepi itu jadi heboh dan ramai oleh orang-orang yang menonton kejadian itu. Jalanan macet sesaat karena motor mama terjatuh ditengah jalan.
Ayah mendatangi seseorang yang sedang memegangi tali pengikat sapi. Ayah sepertinya marah-marah sama orang itu. Gara – gara sapi orang itu mamaku jadi celaka!!
Gara-gara sapi orang itu dilepas dijalanan, Mama yang lagi nyetir motor tiba-tiba diseruduk dari arah kiri dan langsung jatuh!!
Aku langsung nangis melihat mama berdarah dan luka-luka. Mbak Nanda dan adik Tora juga ikutan nangis.
Kasihan sekali mama dan kakak Bagas.
Untungnya ada seorang bapak-bapak yang lagi lewat naik mobil bersama keluarganya berbaik hati menolong kami.
Mama sama kakak Bagas dan aku diantar pulang kerumah Nenek di Pondok Kelor.
Papa Tri, Mama Lilik, dan Ayah mengendarai motor kembali pulang.
Acara jalan-jalan ke desa pagi itu batal kami teruskan karena kejadian itu.
Dari rumah nenek, kami langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan mama dan Kakak Bagas.
Minggu pagi, 26 September 2010 menjadi hari sial bagi keluarga kami yang tak’kan terlupakan.
Jumat, 24 September 2010
ke JOGJA lagiiii.....
Kamis, 26 Agustus 2010
Ramadhan tiba
Ini adalah tarawih pertamanya. Soalnya tahun - tahun sebelumnya adik belum boleh ikut karena masih kecil.

































